Jumat, 18 September 2015
Kakiku
perlahan menyusuri dinding pagar rumah Pak Bambang.Aku terbiasa melakukan ini
ketika senja datang. Seperti biasa, aku melihat beliau tengah mengurus taman
bunga mawarnya yang cantik. Warnanya merah merekah, segar berseri. Tapi itu semua
tidak merubah sorot mata beliau yang tengah menatap kosong.Beliau melihat ke
arahku.Jantungku berdetak sengit. Aku takut beliau akan memarahiku. Aku terus
menunggu umpatan dan kata-kata kasarnya yang terkenal itu, tapi tak seucap pun
keluar dari mulutnya.Beliau hanya tersenyum miris.Matanya tetap kosong.Perlahan
air matanya menetes jatuh ke pipinya. Aku tak mengerti apa yang beliau rasakan,
aku pun tak tahu apa yang harus kulakukan. Aku melompat dari pagarnya dan
melangkah pergi meninggalkan beliau, sendirian.
Hari
mulai gelap dan udara mulai dingin.Aku melangkah menyusuri lorong-lorong
gelap.Aku terbiasa seperti ini.Dulu aku punya rumah.Ya, dulu.Dulu aku disayang
dan disanjung orang.Dulu aku bebas melakukan apapun yang ingin
kulakukan.Sekarang aku terperangkap di lingkungan yang menyedihkan ini.Ya,
menyedihkan.Setiap minggu aku harus melihat sepasang suami istri yang selalu
bertengkar hebat. Si istri akan melawan dengan kata-kata yang tajam, dan
biasanya setelah si suami mengayunkan tangannya, si istri akan masuk ke dalam
rumahnya dan membanting pintu. Sementara si suami akan naik mobilnya dan
kembali lagi dalam seminggu. Itu bukan bagian terburuk, bagian terburuknya
adalah ketika anak semata wayang mereka, menangis di balkon melihat
pertengkaran itu.
Kakiku
terus melangkah hingga ke persimpangan gang.Seekor kupu-kupu menari gelisah di
naungan remang lampu jalan. Dia, kupu-kupu yang sama. Kupu-kupu yang hadir pada
malam itu.Malam ketika Bu Sumi dibekam mulutnya dan ditarik ke dalam
kegelapan.Aku mengikuti mereka.Bu Sumi dibekam mulutnya dengan sehelai kain
yang warnanya aku tak tahu.Gelap, hitam, tak terlihat.Tangannya dipelintir ke
belakang.Dilihat dari tenaganya, dia – yang memakai topeng – adalah seorang
lelaki.Lelaki it uterus membawa Bu Sumi masuk ke dalam kebun dan berhenti di
sebuah gubuk.Aku tetap mengikuti mereka.Aku melihat lelaki itu memukul Bu Sumi
hingga dia pingsan.Aku melihat lelaki itu merobek pakaian Bu Sumi dan berbuat
hal yang menjijikan.Setelah dia merapikan pakaiannya, dia menancapkan sebilah
pisau pada perut Bu Sumi disaat beliau belum sempat membuka matanya. Aku hanya
bisa melihat tanpa bias berbuat apa-apa. Tubuh lelaki itu besar dan tegap,
sedangkan tubuhku kecil. Aku hanya bias melihat semua itu dari kegelapan, dari
balik baying-bayang pohon. Lelaki itu menatapku dan menyunggingkan senyum dari
balik topengnya, atau itu hanya perasaanku saja.Tidak.Tidak mungkin dia bisa
melihatku di kegelapan.Mustahil.
Tak
terasa, kakiku pun melangkah hingga ke jembatan.Jembatan yang menjadi saksi atas
kematian seorang bocah.Tangisnya pecah di senja itu.Kala itu aku heran, kenapa
hanya ada aku dan dia disini?Kemana semua orang?Aku perlahan menghampirinya.Dia
melihatku.Dia mengusap air matanya dan lantas memelukku.Aku berusaha
menenangkannya.Air matanya kembali turun.Dia melepaskan pelukannya dan
melangkah mundur.Aku tahu diabocah yang baik.Entah kenapa dia menangis seorang
diri disini.Kejadian selanjutnya begitu cepat.Dia memanjat pagar jembatan dan
melompat turun ke sungai yang deras, tepat sebelum aku mencegahnya.Tubuhnya
membentur batu dan tercabik-cabik di arus yang deras.Aku hanya melihatnya
nanar.Aku hanya bisa melihat kematian tanpa bisa mencegahnya.
Malam
kian dingin, aku harus mencari tempat yang hangat. Kafe REHAT, tempat yang
nyaman untuk bersantai. Aku tidak pernah bisa memasukinya. Dengan wangi lavender dan wangi kopi yang khas, serta
wangi makanan yang tengah dimasak, menjadikannya kafe terfavorit di kota ini.
Kafe ini biasa dikunjungi Pak Solihin dan Reni pacarnya.Saat aku tengah melihat
kenyamanan kafe dari balik jendela, Pak Solihin tengah bercanda dan bermesraan
dengan Reni.Mereka tertawa lepas seolah tak memiliki beban.Mereka tak menyadari
tengah diawasi olehku, dan … Bu Sumi?Kenapa beliau ada disini?Aku tidak mau
tahu, aku harus pergi.Aku melangkah pergi dan menabrak pot bunga.Bunyinya
nyaring dan terdengar kedalam kafe.Bu Sumi sembunyi, tapi percuma.Pak Solihin
dan Reni telah melihatnya, melihat Bu Sumi yang tengah mengintip. Wajah was-was
Bu Sumi masih kuingat sampai sekarang. Aku merasa kejadian itu terjadi kemarin,
walau sebenarnya telah terjadi sebulan yang lalu.Aroma kafe yang khas dan
deretan pot bunga membuatku teringat tentang Bu Sumi.Hmm… hidup memang memiliki
alur yang unik.
Aku
terus melangkah. Ah… tempat sampah, tempat dimana aku biasa memperoleh makan
malamku. Kau tidak akan pernah bisa menduga makanan apa yang akan kau dapatkan.
Aku tidak beruntung kali ini, aku hanya bisa menemukan salad sisa.Aku tidak
suka sayuran.Itu mengingatkanku tentang pembicaraan Bu Sumi dan Bu Sophie,
tentang perselingkuhan suami Bu Sophie dengan wanita yang jauh lebih muda.Bu
Sophie mengepalkan tangannya menahan amarah.Aku tahu itu, aku
melihatnya.Sementara Bu Sumi terus bercerita tentang perselingkuhan suami
tetangganya itu.Beliau begitu bersemangat memberitahukan perihal buruk itu.Bu
Sophie tetap tersenyum dan menanggapi perkataan Bu Sumi seperlunya saja.Kepalan
tangan Bu Sophie semakin kencang. Pembicaraan itu terhenti setelah anaknya Bu
Sophie – Fera – datang menghampiri mereka berdua. Dengan berbalut seragam putih
biru, dia mengajak ibunya pulang.Bu Sophie membayar belanjaanya ke tukang sayur
yang dari tadi hanya jadi pendengar setia. Bu Sophie dan anaknya pulang ke
rumah dengan berita yang akan mengubah hidup mereka.
Malam
kian larut.Sirine memecah kesunyian malam.Aku bersembunyi di pojokan yang
gelap.Aku tidak suka suara itu.Suara itu bisa merusak kenyamanan.Seperti di
kala sore itu, suara itu melengking nyaring di pekarangan rumah Bu
Sophie.Keluarga yang tengah menikmati waktu minum tehnya, sontak terkejut.Para
polisi keluar dari mobilnya. Mereka memberikan semacam surat penahanan kepada
suami Bu Sophie. Keluarga yang baru saja lepas dari masalah, kini menghadapi
masalah yang jauh lebih besar.Suami Bu Sophie ditahan atas tuduhan
pembunuhan.Suasana bertambah buruk tatkala Pak Bambang masuk ke pekarangan
rumah mereka dan meninju wajah suami Bu Sophie.Polisi segera melerai dan
mengamankan suami Bu Sophie. Ibu Sophie dan Fera hanya bisa terisak saat polisi
membawa suami sekaligus seorang ayah ke kantor polisi. Bukan hanya aku yang
jadi saksi atas kejadian itu, para tetangga, penjual asongan yang kebetulan
lewat, dan … Reni? Dia hanya bisa melihat semua itu di balik kerumunan
tetangga, di belakang gerombolan penuh tanya.
Mataku
terbiasa melihat kegelapan.Aku terkejut saat melihat sesosok manusia tampak
meringkuk di kegelapan, tak jauh dari tempatku bersembunyi. Itu Bu Sophie!
Rambutnya berantakan, pakaiannya pun compang-camping.Sorot matanya
kosong.Perlahan, kudengar dia tertawa, menertawakan dirinya dan dunia.Tawa itu
terdengar lebih memilukan dari sebelumnya.Dulu, tawa itu begitu lepas. Saat
beliau berkumpul bersama Pak Solihin suaminya dan Fera anaknya. Sebelum istri
Pak Bambang membeberkan perselingkuhan suaminya.Sebelum suaminya dipenjara dan
anaknya mati bunuh diri.Sebelum semua kejadian ini terjadi.
Aku
hanya bisa menatap Bu Sophie iba.Aku si lemah yang patut dipersalahkan.Aku yang
hanya bisa menjadi saksi dungu, yang tak bisa mencegah semua ini terjadi.Aku
menyesal, benar-benar menyesal.Aku ingin menyampaikan maafku pada Bu
Sophie.Tapi aku takut.Aku takut beliau marah.Aku takut beliau tidak mengerti
ucapanku.Aku hanya menatapnya dan berpaling meninggalkannya.Aku kembali jadi
pengecut.Setelah sepuluh langkah, aku berhenti dan berbalik. Ya! Aku harus
mengucapkannya.Aku harus menyampaikan permohonan maafku. Dengan sedikit menarik
nafas, aku pun mengatakannya. “Meong!”
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

0 komentar:
Posting Komentar